Perempuan Dayak Desa Laban Nyarit Menembus Hutan Demi Rotan
Semangat Perempuan Hebat untuk Kerajinan Anyaman
Laban Nyarit, 24 Agustus 2025 — Minggu pagi setelah
selesai menyelesaikan ibadah Rutin, sekelompok perempuan Dayak dari Desa Laban
Nyarit sudah bersiap-siap. Dengan semangat yang menyala, mereka menaiki perahu
kecil, menyusuri sungai, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki
menembus hutan lebat. Tujuan mereka: mencari rotan—bahan utama kerajinan
anyaman khas Dayak—yang menjadi penopang utama usaha Kelompok Usaha Perhutanan
Sosial (KUPS HHBK) di desa Laban Nyarit.
Lima perempuan tangguh—Dorthi, Sulau, Dewi, Marlen, dan
Somi—berangkat bersama Siau, satu-satunya laki-laki dari kelompok
masyarakat yang turut membantu. Mereka didampingi oleh fasilitator dari KKI
WARSI, Nadia, yang mengikuti langsung proses pencarian rotan hari
itu.
Perjalanan Melelahkan, Semangat Tak Surut
Sekitar pukul 12 siang, rombongan mulai menyusuri sungai,
lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Medan yang mereka tempuh
tidak mudah: menanjak bukit, menuruni lereng curam, menyusuri pinggiran jurang,
dan melintasi sungai-sungai kecil. Selama lima jam mereka berjalan hingga pukul
17.00 sore, membawa serta anjat (tas tradisional Dayak) berisi air minum
dan makanan.
“Perempuan Dayak ini luar biasa kuat. Mereka bukan hanya
berjalan, tapi juga menggendong anjat. Langkah mereka cepat dan tepat, tahu ke
mana kaki harus berpijak. Saya yang tidak membawa beban apa-apa malah
berkali-kali jatuh karena licin dan terjal,” ujar Nadia, penuh
kekaguman.
Meski perjalanan panjang dan medan berat harus mereka lalui,
suasana tetap penuh canda tawa. Di sela istirahat dan saat menarik
rotan, mereka saling melempar gurauan, tertawa bersama, dan tetap menjaga
semangat satu sama lain. Keakraban ini menjadi sumber energi tambahan di tengah
tantangan fisik.
Mencari Rotan: Tidak Sembarangan, Penuh Ketelitian
Rotan tidak bisa sembarangan diambil. Para perempuan ini hanya
memilih jenis rotan yang benar-benar siap panen dan sesuai kebutuhan, yaitu
rotan weegoh. Mereka memahami betul pentingnya menjaga keseimbangan
alam—apa yang diambil dari hutan harus dipastikan tidak merusak keberlanjutan
sumber daya.
Rotan tumbuh merambat, melilit pohon-pohon tinggi. Untuk
mendapatkannya, para perempuan di bantu oleh siau harus memanjat pohon,
memotong, dan menarik rotan dengan tenaga ekstra dan ketelitian tinggi. Butuh
kesabaran dan keahlian agar tidak merusak tanaman lain maupun ekosistem
sekitarnya.
Berjam-jam mereka bekerja di hutan hingga akhirnya berhasil
membawa pulang rotan pilihan. Rotan ini akan mereka olah menjadi berbagai
kerajinan anyaman khas Dayak seperti Lembaran, Bando, Anting dan Gelang, yang
telah menjadi bagian dari identitas budaya sekaligus sumber ekonomi.
“Rotan ini bukan sekadar tanaman, tapi simbol ketekunan,
kearifan, dan kekuatan perempuan Dayak. Apa yang mereka lakukan hari ini adalah
bukti nyata bahwa hutan bisa memberi, jika dijaga dan dikelola dengan bijak,”
tambah Nadia.
Menjaga Hutan, Menggerakkan Ekonomi
Apa yang dilakukan oleh para perempuan Dayak di Laban Nyarit
lebih dari sekadar mencari bahan baku. Ini adalah upaya pelestarian tradisi,
pemberdayaan perempuan, dan pengelolaan hutan secara lestari. Kegiatan KUPS
HHBK menjadi contoh nyata bahwa kehutanan sosial bisa menjadi jalan untuk
mewujudkan desa berkelanjutan, yang menjaga alam sambil memberdayakan
masyarakatnya.
Dengan semangat, kearifan lokal, dan tawa yang selalu hadir
di tengah perjuangan, perempuan Desa Laban Nyarit menunjukkan bahwa menjaga
hutan bisa dilakukan dengan bahagia—dan bersama.